Khawatirlah dengan Kondisi Pemuda Kita Hari Ini !

Oleh: M. Ifdarsyam Ritonga, Lc. M.HI*

Ifdarsyam R

Masa muda merupakan masa sempurnanya pertumbuhan fisik dan kekuatan seorang manusia. Maka ini merupakan nikmat besar dari Allah Swt. yang seharusnya dimanfaatkan dengan sebaik-sebaiknya untuk amal kebaikan guna meraih ridha Allah. Dan sebagimana nikmat-nikmat besar lainnya dalam diri manusia, nikmat inipun nantinya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt.

Kaum muda itu tidak identik dengan hura-hura, tidak bisa diatur, tidak serius. Namun kaum muda adalah sekelompok orang yang penuh potensi kebaikan dan kekuatan yang bisa dimenej, bisa dioptimalkan untuk berbagai kemaslahatan umat. Karena bila tidak digunakan untuk hal-hal yang baik akan mengarah pada hal-hal negatif yang merugikan banyak orang.

Perhatian al-Qur’an terhadap pemuda tertuang secara simbolik melalui kisah ashâbul kahfi. “Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.” (QS. Al-Kahfi: 13). Kisah heroik beberapa orang kaum muda yang konsisten berpegang pada ajaran Allah meski berhadapan dengan penguasa diktator yang gencar mengintimidasi dengan teror-teror fisik dan psikis. Kepada siapapun yang enggan menyembah sesembahan dan tunduk pada agama mereka.

Bila kita hendak mengetahui betapa pentingnya masa muda kita bisa menilik pada sejarah. Para nabi utusan Allah hampir semua menerima wahyu pada usia muda. Karena pada kaum muda terdapat berbagai potensi dan kekuatan yang tidak dimiliki anak-anak dan orang yang sudah lanjut usia. Maka bila tidak terarahkan secara baik dikhawatirkan akan beralih menjadi potensi kejahatan dan kejelekan yang akan merusak. Bukan hanya bagi dirinya, tapi bisa berakibat pada lingkungan sekitarnya. Demikian juga kita tilik masa muda para salafus shalih, akan kita dapatkan betapa semangat mereka menggebu-nggebu untuk mendapatkan ilmu walau hanya setetes. Masa muda mereka adalah masa muda yang berguna untuk agama, nusa dan bangsa. Mereka selalu mengisi hari-hari mereka dengan hal-hal yang bermanfaat.

Dan inilah sebagian data para penghafal Al-Qur’an di usia dini:

  • Imam Syafi’i (150 H-204H) . Hafal Al-Quran ketika usia 7 tahun.
  • Imam Ath-Thabari ( 224 H – 310 H), hafal Al-Quran pada usia 7 tahun, usia 8 tahun  menjadi imam shalat dan mulai menulis hadits pada   usia 9 tahun.
  • Ibnu Qudamah ( 541 H – 620 H). Hafal Al-Quran usia 10 tahun.
  • Ibnu Sina ( 370 H- 428 H), Hafal Al-Quran umur 5 tahun.
  • Imam Nawawi. Hafal Al-Quran sebelum baligh.
  • Imam Ahmad bin Hambal . Hafal Al-Quran sejak kecil.
  • Ibnu Khaldun ( 732 H- 808 H). Hafal Al-Quran usia 7 tahun.
  • As-Suyuthi (w: 911 H), hafal al-Qur’an sebelum umur 8 tahun, umur 15 tahun hafal kitab al-Umdah, Minhaj al-Fiqh wa al-Ushul, Alfiyah Ibn Malik.
  • Umar bin Abdul Aziz hafal al-Qur’an saat masih kecil
  • Ibnu Hajar al-Atsqalani (w: 852 H) hafal al-Qur’an usia 9 tahun.

Islam menuntut manusia untuk menjadi gemilang dalam usia belia. Tidak membuang waktu percuma. Dari sini kita semakin memahami hikmah besar dari ayat-ayat yang memerintahkan kita untuk memperhatikan waktu dengan sumpah-sumpah Allah. Demi masa, Demi waktu dhuha, Demi malam jika menyelimuti, Demi siang yang menampakkan dan sebagainya.

Lalu, bagaimana kondisi pemuda kita saat ini? Pemuda kita hari ini jauh dari kata “baik”. Jangankan untuk hafal Qur’an di usia dini, banyak pemuda kita hari ini yang buta dengan aksara Qur’an, namun kebanyakan orang tua tidak khawatir dengan hal ini. Cobalah Kita lihat, berapa persentase pemuda yang mau menjalankan ibadah shalatnya secara berjama’ah?!, jawabannya sangat minim sekali. Masjid kita mayoritas penghuninya hanya dari kalangan kaum tua. Sedangkan pemudanya masih memburu dunia, menghabiskan masa muda dengan hura-hura, jauh dari agama. Pemuda kita hari ini dihadapkan dengan musibah besar dengan nama “NARKOBA”. Barang ini tidak hanya memabukkan namun juga merusak akal, jantung dan ingatan. Penggunanya menjadi kecanduan dan berujung kematian.

Narkoba adalah musuh kita bersama, masalah serius ini adalah tanggungjawab bersama, Selaku orang tua, dan pemerintah setempat yang muslim, yang jujur kepada Allah, yang di hatinya memiliki energi keimanan, akan merasa takut pemudanya menjadi korban narkoba. Ia akan membentengi anak dan masyarakatnya dengan akhlak yang Islami. Sebagaimana panutan kita, Nabi Muhammad Saw. mengajarkan akhlak Islam yang mulia. Berikut beberapa kiat yang bisa dijadikan acuan dalam membangun akhlak Islami :

  1. Menjadikan Akhlak Islam Sebagai Prioritas Utama dalam Keseluruhan Aktivitas.

Boleh saja kita mendidik dan memiliki cita-cita agar buah hati sukses di bidang tertentu, misalnya menjadi ahli ekonomi, ahli pendidikan, ahli politik, ahli kedokteran dan lain sebagainya. Namun perlu diperhatikan, dari itu semua, akhlak Islam haruslah menjadi prioritas utama yang ditanamkan sejak dini.

Jadikanlah Al-Quran sebagai pegangan utama untuk menghadirkan akhlak Islam kepada anak-anak. Jika hal ini diterapkan, niscaya anak memiliki pribadi dengan akhlak yang mulia. Ia tidak akan menipu, menghancurkan bangsa, mengikuti nafsu, dan menghalalkan sesuatu dengan berbagai cara. Al-Quran dalam sejarahnya diturunkan selama 13 tahun, fokus mengajarkan manusia beraqidah dan akhlak yang baik.

  1. Meyakini bahwa Akhlak Islam adalah Permanen Sepanjang Masa.

Akhlak yang diajarkan Islam bersifat permanen. Ia tidak luntur atau lekang dimakan waktu dan tempat. Saat Al-Quran mengajarkan berbuat baik kepada orang tua, maka nilai ini berlaku sepanjang masa. Begitu pula saat Al-Quran menyatakan jangan mendekati zina, maka nilai inipun berlaku sepanjang masa.

Saat ini, begitu dahsyatnya propaganda yang bertujuan menggeser nilai-nilai Islam, agar jauh dari pemeluknya, misalnya berbuat zina, minuman khamar, narkoba tentunya, dan masih banyak yang lainnya. Dengan alasan mengikuti trend, tidak sedikit anak-anak mengikuti budaya yang bertentangan dengan nilai Islam. Dan perlu kita ingat, Kaum Yahudi memerangi umat Islam bukanlah menggunakan senjata, namun yang mereka lakukan melalui seonggok wanita dan secangkir minuman keras (narkoba). Ia akan lebih dahsyat pengaruhnya dibanding bom atom.

  1. Menjaga dan Memelihara Lingkungan Sekitar

Berhati-hatilah dengan lingkungan di mana anak berada. Jagalah lingkungan anak agar ia dekat dengan nilai-nilai Islam. Menjadi tanggung jawab orang tua untuk menjaga anak dari pengaruh lingkungan negatif. Menjadi tanggungjawab pemerintah menjadikan lingkungan yang sehat dan kondusif. Saat anak mengakses internet, berhati-hatilah agar ia tidak terjerembab membuka situs-situs yang merusak moral. Saat anak sudah mengenal lawan jenis, berhati-hatilah dengan pergaulan di luar rumahnya, dan lain sebagainya.

Kemarin kita bicara tentang para pahlawan kita. Dan hari ini kita juga bicara tentang pahlawan masa depan. Dan pahlawan masa depan kita adalah pemuda. Mereka adalah wajah masa depan Indonesia, negeri kita. Mereka adalah potret masa depan Indonesia. Di tangan merekalah InsyaAllah Indonesia akan mengambil gilirannya, bukan hanya dalam mensejahterakan negerinya, tetapi juga dalam memimpin dunia yang mulai terseok-seok.

Kenapa harus pemuda? Karena pemuda adalah pemimpin-pemimpin masa depan, bapak dari anak-anak masa depan, serta baik dan buruknya masa depan bangsa dan agama ini ada di tangan pemuda. Pemimpin yang sekarang berkuasa semakin hari umurnya pun semakin meningkat dan semangatnya untuk melanjutkan hidup pun semakin melemah. Dan jika ada warisan dari orang bijak seperti Rasulullah Saw. kita juga mendapatkan warisan dari seorang bijak yang lain, Umar Bin Khattab. Beliau pernah mengatakan, “setiap kali saya menghadapi masalah-masalah besar, yang kupanggil adalah anak-anak muda.” Bangsa kita ini sedang menghadapi masalah yang serius. Dan yang bisa menyelesaikan masalah serius ini adalah para pemimpin muda itu. Para pemuda.

*Penulis adalah Imam Masjid Raya Al-Aman Labura, Ketua Al-Azhar Centre (Ikatan Alumni Timur Tengah) Labura & Sekretaris LPTQ Labura.

“SAKINAH” : Buat Apa Senang, Kalau Tak Tenang

Oleh: M. Ifdarsyam Ritonga, Lc. M.HI*

 Sakinah berasal dari kata “Sakan” yang artinya diam, tetap, stabil. Sakinah adalah perasaan tenang yang lahir dari kemantapan hati. Maka setiap manusia selalu mencari ketenangan di dunia ini, semua kita ingin tenang dalam hidupnya, dan semua cara akan ditempuh untuk mencapai kentenangan itu.

Ketenangan merupakan anugerah dari Allah Swt, maka kitapun berharapa Allah Swt memberikan ketenangan pada hati kita, karena ada orang yang tidak mendapatkan ketenagan dari Allah Swt, meskipun kelihatan dari luar tampak senang, tapi pada hakikatnya ketenangan tidak ia dapati.

Perlu kita ketahuai bahwa sumber ketenangan adalah Allah Swt. Allah, mengatakan di dalam Al-Qur’an surah Al-Fath : 4

هُوَ الَّذِي أَنزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَّعَ إِيمَانِهِمْ ۗ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

Artinya: Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah  tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Berbagai cara manusia untuk memperoleh ketenangan. Ada yang mengumpulkan harta sebanyak mungkin, ada yang pergi ke gunung, ada yang mencari jalan yang keliru dengan memakai obat-obatan terlarang. Semua mereka kerjakan untuk mendapatkan ketenangan dalam hidup mereka. Tetapi yang mereka dapatkan hanyalah ketenangan yang semu. Karena sekali lagi, sumber ketenagan adalah dari Allah Swt.

Tak ada seorang pun terlepas dari masalah kehidupan. Itulah sunatullah yang berlaku di dunia. Kekayaan, pangkat dan kedudukan takkan mampu menghalanginya. Namun, Islam memberikan penyelesaian terhadap tekanan hidup itu agar jiwa menjadi tenang. Tak ada istilah stress atau kecewa bagi seorang Mukmin. Persoalannya Islam telah memberikan penyelesaian untuk menghadapi tekanan hidup. Berikut adalah langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mendapat ketenangan jiwa :

  1. Berzikir kepada Allah Swt

Allah Swt., berfirman di dalam Surah Ar-Ra’d : 28

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Artinya: (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

Rosulullah sendiri yang sudah diampuni dosanya, meminta ampun kepada Allah Swt. 100 kali dalam sehari. Apalagi kita yang senantiasa berlumur dosa, semestinya banyak meminta ampun dan berzikir kepada Allah Swt. Maka kalau kita sedang gundah gulana, berzikir lah kepada Allah Swt, yang hati kita berada di dalam genggamanNya.

  1. Membaca Al-Qur’an

Suatu ketika seseorang datang kepada Ibnu Mas’ud, salah seorang sahabat utama Rasulullah Saw. Ia mengeluh, “Wahai Ibnu Mas’ud, nasihatilah aku dan berilah obat bagi jiwaku yang gelisah ini. Hari-hariku penuh dengan perasaan tak tenteram, jiwaku gelisah, dan fikiranku jauh dari kedamaian. Ibnu Mas’ud menjawab, ”Kalau penyakit itu yang menimpamu, maka bawalah hatimu mengunjungi tiga tempat :

  • Pertama, tempat orang membaca Al-Quran. Engkau baca Al-Quran atau engkau dengar baik-baik orang yang membacanya.
  • Kedua, engkau pergi ke majlis ilmu yang mengingatkan hatimu kepada Allah
  • Ketiga, engkau cari waktu dan tempat yang sunyi, di sana engkau berkhalwat mengabdikan diri kepada Allah.

Nasihat sahabat Nabi itu segera dilaksanakan orang tersebut. Sampai di rumah, ia segera berwudhu kemudian membaca Al-Qur’an dengan khusyu’. Selesai membaca, ia segera mendapatkan ketentraman yang dicarinya dan jiwanya pun tenang. Fikirannya segar kembali. Padahal, ia baru melaksanakan satu dari tiga nasehat yang disampaikan sahabat Rasulullah Saw. tersebut.

Dan Allah Swt. mengatakan di dalam Al-Qur’an di dalam surah Al-Isra’ : 82

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

Artinya: Dan Kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.

Maka Al-Qur’an jangan kita tinggalkan. Al-Qur’an yang kita baca setiap hari, akan menjadi modal buat sehari kita bekerja. Al-Qur’an yang kita baca akan menjadi penenang hati kita.

  1. Segera Melaksanakan Shalat

Allah Swt. berfirman di dalam surah Al-Baqarah : 45-46

وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلاَقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Dan mintalah pertolongan ( kepada ) Allah dengan sabar dan shalat”. Dan sesungguhhya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang  khusu’ , ( yaitu ) orang-orang yang menyakini , bahwa mereka akan menemui Robb-nya dan bahwa mereka akan kembali kepad-Nya ”.

Ayat di atas mengandung beberapa pelajaran :

Pelajaran Pertama : Bahwa Allah memerintahkan seluruh hamba-Nya untuk selalu bersabar dan menegakkan shalat di dalam menghadapi segala problematika hidup.

Pelajaran Kedua : Dalam ayat di atas Allah Swt. selain memerintahkan seseorang untuk bersabar didalam menghadapi semua problematikan hidup ini, Allah Swt. juga memerintahkan seorang muslim untuk menegakkan shalat .

Kenapa dipilih ibadah shalat, bukan ibadat-ibadat lainnya seperti puasa, haji, zakat ataupun yang lainnya ? Jawabannya adalah bahwa shalat mempunyai pengaruh yang luar biasa pada diri seseorang sehingga dia bisa tabah, tegar dan teguh di dalam menghadapi segala problematika hidup. Ini sesuai dengan hadist yang menyebutkan :

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا حزبه أمر صلى

“Bahwasanya Rosulullah Saw. ketika sedang menghadapi masalah, langsung menegakkan shalat” . ( HR. Abu Daud )

Rosulullah Saw. menjadikan shalat sebagai sarana mendapatkan ketenangan. Maka jika kita gundah gula, segeralah lakukan shalat, agar hati kita senantiasa tenang.

  1. Memiliki Sifat Qona’ah: Bersyukur terhadap apa yang kita miliki

Cinta pada dunia dan ingin hidup dalam kemewahan,  adalah salah satu penyebab yang bisa mengakibatkan hidup menjadi tidak tentram. Orang-orang yang cinta dunia akan selalu terdorong untuk memburu segala keinginannya meski harus menggunakan cara yang licik, curang, dengan  berbohong, korupsi, dan sebagainya. Semua itu karena orang yang cinta dunia  tidak pernah menyadari, sesungguhnya harta hanyalah ujian.  Hingga  ia  tidak pernah merasa cukup dengan apa yang sudah dimilikinya dan masih selalu ingin menambahnya lagi, ini adalah sikap yang sangat jauh dari rasa syukur kepada Allah Swt.

Qana’ah bukanlah berarti  hilang semangat untuk berkerja lebih keras demi menambah rezeki. Malah, ia bertujuan supaya kita senantiasa bersyukur dengan rezeki yang dikaruniakan Allah.  Karena sikap qana’ah tidak berarti fatalis  menerima nasib begitu saja tanpa ikhtiar. Orang-orang qana’ah bisa saja memiliki harta yang sangat banyak, namun semua itu bukan untuk menumpuk kekayaan.

Nabi Muhammad Saw.  telah mengajarkan kepada kita bagaimana kita harus bersikap terhadap harta, yaitu menyikapi harta dengan sikap qana’ah (kepuasan dan kerelaan). Sikap qana’ah ini harus dimiliki oleh orang yang kaya maupun orang yang miskin, adapun wujud qana’ah yaitu merasa cukup dengan pemberian Allah, tidak tamak terhadap apa yang dimiliki manusia, tidak iri melihat apa yang ada di tangan orang lain dan tidak rakus mencari harta benda dengan menghalalkan segala cara, sehingga dengan semua itu akan membuat orang merasa puas dan tidak mencari melebihi apa yang dibutuhkan, dan mencegah orang dari menurutkan hawa nafsu yang tidak pernah puas.

Rasulullah Saw. telah mengajarkan  kita semua agar qana’ah, berikut beberapa hadits Rosulullah tentang sifat Qana’ah :

Perhatikan sabda Rasulullah Saw. berikut ini:  “Tidaklah kekayaan itu dengan banyak harta, tetapi sesungguhnya kekayaan itu ialah kekayaan jiwa.”  (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

Rasulullah Saw. bersabda:   “Jadilah kamu seorang yang wara’, nanti kamu akan menjadi sebaik-baik hamba Allah, jadilah kamu seorang qana’ah, nanti kamu akan menjadi orang yang paling bersyukur kepada Allah, sedikitkanlah tertawa karena banyak tertawa itu mematikan hati.” (Hadis riwayat al-Baihaqi)

Ibnu Qudamah dalam Minhajul Qashidin menyampaikan hadits dalam Shahih Muslim dan yang lainnya, dari Amr bin Al-Ash r.a Rasulullah Saw. bersabda:  “Beruntunglah orang yang memasrahkan diri, dilimpahi rezeki yang sekedar mencukupi dan diberi kepuasan oleh Allah terhadap apa yang diberikan kepadanya.” (Diriwayatkan Muslim, At-Tirmidzi, Ahmad dan Al-Baghawy).

Itulah beberapa langkah yang harus kita lakukan untuk mendapatkan kemantapan hati, untuk mendapatkan ketentraman jiwa. Karena hati ini milik Allah Swt. dan dalam kuasa Allah lah hati kita dibolak-balikkan. Kita pun diperintahkan untuk berdoa agar Allah senantiasa menentramkan hati kita. Ketenangan sumbernya dari Allah. Cari ketenangan dengan bersandarkan kepada Allah. Bukan terus mengejar dunia untuk ketenangan sesaat. Punya banyak harta, punya rumah mewah tidak menjamin seseorang tenang dalam hidupnya. Maka buat apa kita senang kalau tak tenang?

 

*Penulis adalah Imam Masjid Raya Al-Aman Labura, Ketua Al-Azhar Centre (Ikatan Alumni Timur Tengah) Labura & Sekretaris LPTQ Labura.

 

Muslim Kaya, Islam pun Jaya

ayii

Oleh: M. Ifdarsyam Ritonga, Lc. M.HI*

 

Beberapa pekan yang lalu penulis membaca sebuah artikel di media elektronik, beritanya sangat memberi kejutan “Demi Sang Pemodal Baru Klub Raksasa Real Madrid Rela Menghapus Simbol Salib”. Masuknya investor Timur Tengah ke klub sepakbola raksasa asal Spanyol, Real Madrid, membuat perubahan besar. Logo sacral klub Galacticos pun rela diubah demi sang pemodal baru. Manajemen Real Madrid dilaporkan telah menurunkan symbol salib dalam logo klubnya. Keputusan ini diambil setelah National Bank of Abu Dhabi (NBAD) menjadi salahsatu investor baru.

Kabar berkebalikan yang menghiasi beberapa media tanah air menjelang perayaan natal dan tahun baru. Menjelang perayaan natal, umumnya pusat perbelanjaan, gerai-gerai, hotel hingga restoran dihiasi berbagai hiasan natal. Sebagian besar mewajibkan semua karyawannya untuk mengenakan atribut, salahsatunya topi santa. Berbagai reaksi muncul akibat kebijakan itu. Meskipun Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Menteri Agama telah berkali-kali menghimbau agar karyawan muslim tidak dipaksa mengenakan atribut natal, namun masih ada saja beberapa perusahaan yang memaksa karyawan muslim memakai atribut natal. Pemaksaan memakai Atribut ‘Natal’ adalah pelecehan terhadap Islam. Ini adalah kerusakan aqidah yang nyata. Tapi terkadang kita tidak menyadarinya dengan alasan professional dalam bekerja karena hal tersebut merupakan intruksi langsung dari atasan.

Dua fenomena di atas menunjukkan kepada kita, bahwa dengan menguasai keuangan kita akan kuasai peradaban. Kita dengan mudahnya membuat satu kebijakan yang menguntungkan umat Islam. Kadang-kadang orang kaya yang tidak baik memakai uangnya untuk memerangi kebaikan, untuk memerangi Islam. Itulah yang terjadi ketika orang-orang Yahudi atau Nasrani memegang kendali keuangan dunia. Itu juga yang terjadi pada karyawan muslim yang dipaksa memakai atribut natal. Karena itu, menjadi kaya itu bagi kita adalah satu keharusan, untuk mengembalikan keseimbangan sosial kehidupan di tengah-tengah kita.

Mana yang lebih banyak, orang miskin yang lari ke masjid atau yang menjadi pengemis, pelacur, perampok? Dalam kondisi tertekan, manusia memiliki pilihan-pilihan baik positif maupun negatif, namun kecenderungan yang diambil lebih banyak negatif, karena keterpaksaan. Sungguh, telah kita saksikan fenomena yang belum lama terjadi di daerah kita. Ada calon legislatif beragama Nasrani menang dengan perolehan suara fantastik di daerah pemilihan (dapil) yang mayoritas muslim. Loh, kok bisa? Lagi-lagi permasalahannya, uang. Suara mereka dibayar hanya dengan ratusan ribu rupiah saja, tetapi tidak menyadari bahwa aqidah mereka hampir tergadaikan. Mungkin itulah kenapa Rasulullah Saw. Mengingatkan kita, “Kaadal faqru an yakuuna kufran.” Kefakiran itu mendekatkan seseorang pada kekufuran.

Ibnu Abid Dunya menjelaskan beberapa alasan tentang mengapa kita semua diperintahkan menjadi kaya dalam Islam. Salah satu alasannya adalah, terlalu banyak perintah syariah yang hanya bisa dilaksanakan dengan uang. Kita lihat 5 rukun Islam, zakat dan haji hanya bisa dilaksanakan kalau kita punya uang. Kalau 200 ribu orang umat Islam Indonesia tiap tahun pergi haji. Rata-rata mengeluarkan 5.000 dollar, coba kita kalikan berapa banyak uang yang beredar untuk melaksanakan satu ibadah. Belum lagi Jihad. Jadi kita tidak bisa berjihad kecuali dengan uang. Misalnya kita di Indonesia sekarang mau pergi ke Palestina untuk pergi berperang, tenaga kita tidak diperlukan karena tenaga sudah cukup dengan ada yang di sana. Rosulullah Saw. mengatakan, : “Siapa yang menyiapkan seorang bertempur maka dia juga dapat pahala perang”. Belum lagi perintah berqurban, berinfaq, menikah dan lain sebagainya. Semua harus memiliki uang, baru perintah syariah itu bisa kita laksanakan.

Mari kita amati, mengapa Negara kita rusak seperti yang kita rasakan sekarang ini? Salahsatu indikasinya adalah lantaran orang-orang shalehnya sebagian besar adalah para fuqara wa masakin. Karena kebanyakan orang-orang shelehnya labil dari segi ekonomi. Peredaran uang adalah indicator keshalehan atau keburukan masyarakat. Apabila uang yang beredar lebih banyak di tangan orang-orang jahat, maka itu indikasi bahwa masyarakat itu rusak. Apabila uang itu beredar di tangan orang-orang shaleh maka itu indikasi bahwa masyarakat itu sehat. Rasulullah Saw. mengatakan “Sebaik-baik uang adalah uang yang beredar diantara orang-orang shaleh”. Semakin banyak orang kaya yang shaleh, maka menjadi indikasi kebaikan untuk umat.

Kita lihat masa sahabat, ada panglima perang sekaliber Khalid bin Walid, tapi juga ada pengusaha tangguh seperti Abdurrahman bin Auf dan Usman bin Affan yang siap mendermakan hartanya di Jalan Allah. Kita juga ingin masa keemasan itu terulang kembali. Banyak orang-orang shaleh, dan banyak orang kaya serta pengusaha-pengusaha shaleh yang punya visi dakwah di dalam hidupnya.

Oleh karena itu, menjadi muslim kaya adalah keharusan. Namun disaat kaya, ingatlah selalu bahwa harta yang dimiliki adalah amanah dari Allah. Gunakanlah harta tersebut pada tempatnya. Bangun peradaban dengan menggunakan kekayaan yang dimiliki dengan niat lillahi ta’ala. Hilangkahlah egoisme agar disebut orang kaya dan mengayakan diri sendiri. Tapi tumbuhkanlah jiwa menjadi dermawan dan pemurah untuk orang-orang yang tidak mampu. Tanpa ada orang-orang muslim yang kaya tak akan kembali kejayaan Islam.

*Penulis adalah Imam Masjid Raya Al-Aman Labura, Ketua Al-Azhar Centre (Ikatan Alumni Timur Tengah) Labura & Sekretaris LPTQ Labura.

Hijrah Untuk Pe…

Hijrah Untuk Perubahan

Hijrah merupakan prinsip dasar umat Islam yang menuntut umatnya untuk hidup dinamis agar dapat mengantisipasi segala bentuk perubahan yang terjadi disekitarnya, maka oleh karena itu jika kita inginkan sebauah perubahan kita harus hijrah (berpindah) menuju kerah yang lebih baik dengan konsep perubahan yang mempunyai perencanaan dan desain yang matang agar esensi dari perubahan itu nampak dengan semboyan bersama kita bisa